Sabtu, 20 Mei 2017

masa kelam Indonesia,akankah terulang ???




www.toto86.com. Kerusuhan pada Mei 1998 silam bisa jadi menjadi salah satu sejarah kelam bagi Indonesia. Sejumlah kerusakan terjadi di beragam tempat. salah satunya di Glodok, Jakarta Barat, yang menjadi tempat berdagang oleh warga beretnis Tionghoa.

Yunita, yang waktu itu masih duduk di kelas 5 SD turut menonton peristiwa yang terjadi di Glodok. Pada 14 Mei 1998 pagi, Yunita masih berangkat ke sekolahnya yang terletak di area Glodok seperti biasa. Karena pada pagi hari, masih belum ada tanda-tanda bahkan akan terjadi kerusuhan.

Tetapi, sekitar pukul 10.00 WIB, seluruh murid di sekolah Yunita dikumpulkan di aula sekolah. Saat itu guru dan pihak sekolah meminta siswa untuk langsung balik ke rumah masing-masing.

“Saat itu memang sudah ada tidak kecil sih, sebab memang dekat banget sama Glodok, jadi ada kebakaran gede itu kita tahu. Tahu-tahu seluruh orangtua menjemput dan dikembalikan ke rumah masing-masing,” ujar Yunita.

Sebagai seorang anak, ada perasaan takut yang dirasakan oleh Yunita. Kebakaran yang terjadi di mana-mana serta banyaknya helikopter yang melintas membuat rasa takut tersendiri baginya.

Untungnya, lingkungan tempat tinggal Yunita yang berada di area Kota terbilang aman, karena ada beberapa masyarakat turun langsung menjaga di daerah itu.

Beruntung juga, Yunita tinggal di lingkungan yang multikultural yang juga sudi membantu untuk ikut menjaga situasi keamanan.

“Lingkungan rumah aku agak multikultural, jadi seluruh menjaga 1  sama lain, dijaga siskamling segala macam. Orang yang rasnya Tionghoa enggak boleh keluar sama sekali pada kala itu, tetapi yang menjaga suku lainnya,” bilang Yunita.

Fenomena tersebut, membuat Yunita menyadari satu  hal, bahwa dirinya memang berbeda, bahwa dirinya merupakan seorang minoritas. Sebelum ada fenomena itu, yunita mengaku

“Sejak hari tersebut aku mulai menyadari bahwa saya benar-benar minoritas di bangsa Indonesia. Sebelumnya aku enggak terlalu ngerti. Karena sebelumnya saya tak tahu, aku baru tahu ada pembedaan seperti tersebut,

Ketika itu, kerusuhan di pelbagai tempat pula yang mengakibatkan Presiden Soeharto yang berkuasa tiga puluh tahun, turun dari kursi kekuasaan. Kerusuhan tersebut juga diawali dengan krisis moneter pada 1997.

Berbeda juga yang dialami oleh Candra Jap yang saat fenomena tersebut sedang menjalani ujian Penilaian Belajar Tahap Nasional (Ebtanas) mata pelajaran Bahasa Inggris. Saat mengetahui terjadi penjarahan dan pembakaran di Glodok semua murid dan guru pun langsung panik.

Apalagi Candra dan kawan 1  kelasnya bisa meliat langsung fenomena itu lantaran letak ruang kelasnya yang berada di lantai 3.

“Di lantai 3 pas kebetulan hadap luar langsung gedung Glodok Plaza, kita bisa lihat kok ada asap hitam dan telah ramai,” kata Candra.

Melihat keadaan seperti itu, murid-murid pun langsung mengerjakan soal dengan cepat. Sesudah usai, guru pun langsung memerintah semua siswa untuk segera pulang ke kediaman.

Candra pun melihat secara langsung bagaimana orang-orang mulai menjarah barang-barang di pertokoan lalu membakar gedung-gedung pertokoan itu.

Baginya peristiwa tersebut menjadi satu pengalaman yang cukup mengakibatkan trauma. Tak hanya trauma sebab peristiwa dan penjarahan yang terjadi, namun juga trauma lantaran kenapa etnis Tionghoa yang diserang.

“Pengalaman sangat-sangat traumatik, kala itu heran mengapa orang Tionghoa jadi korban, masalahnya apa, Tionghoa kenapa, teman-teman juga heran, emang kami bukan warga negara Indonesia ya,” ujar Candra.

Lantaran mereka tak tahu siapa sesungguhnya versus yang mereka hadapi, candra menyebut ketakutan yang dirasakan oleh masyarakat etnis Tionghoa waktu itu adalah

Sebab kalau musuhnya adalah orang non-Tionghoa

Ketakutan yang dirasakan saat itu bahkan sampai berdampak pada ketakutan warga saat melihat segerombolan orang lewat.

Dianggap sebagai perusuh jika melihat ada segerombolan orang tentu langsung dianggap sebagai musuh Sambil membawa barang langsung dianggap sebagai penjarah, dan siapa pun yang lewat

Kami merasa negara enggak hadir jika bahasa kerennya sekarang

Keadaan seperti itu, sejumlah temannya memilih untuk kabur ke luar negeri diakibatkan lanjut Candra akhirnya.

Candra mengungkapkan kerusuhan itu tidak terjadi secara mendadak.

Sebelum terjadinya kerusuhan, dia menyebut sudah terjadi pengkondisian semenjak 2  bulan Pengkondisian itu, lanjut Candra, dilakukan dengan langkah-langkah menaikkan harga-harga yang akan dibeli oleh etnis Tionghoa. orang tua pun mulai berpesan kepada anak-anaknya untuk selalu berhati-hati.

Kalau enggak mau bayar ya sudah enggak usah, terus dijawab lo

Candra pun sempat mengalaminya. Perihal ini sebab pada saat kerusuhan, orang Tionghoa dicitrakan sebagai etnis yang hanya peduli terhadap uang dan tak peduli terhadap sesama, jika menjadi atasan pelit, dan lain sebagainya.

"Yang paling berat itu malu jadi orang Tionghoa, sejak tersebut aku mulai mencari kenapa bisa seperti tersebut, akhirnya saya menemukan sosok Soe Hoek Gie, begitu baca buku ia, rasa kebanggaan sebagai orang Tionghoa mencuat," tandas Candra, yang saat ini aktif dalam Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI).

Kini, sembilan belas tahun sesudah rerformasi, baik Candra maupun Yunita mengaku kehidupan mereka berjalan normal. Tidak ada diskriminasi yang mereka terima dalam kehidupan sehari-hari.

Hanya saja, Yunita yang saat ini menjadi sebagai Kepala Divisi Advokasi LBH Jakarta, menyatakan bahwa isu SARA mungkin saja meletup lagi.

“Saat ini mungkin agak menurun tetapi sesungguhnya tersebut laten ya. Konflik laten bisa dikeluarkan kapan pun, minoritas suku, agama, isu SARA berbahaya,” ujarnya. www.toto86.com

0 komentar:

Posting Komentar